Pondok Pesantren Nurul Ihsan (PPNI) Baturusa pada mulanya berupa Madrasah Diniyah yang didirikan oleh KH. Muhammad Umar dan KH. Mukhtar Amin yang terletak di Desa Baturusa. Semula proses belajarnya masih menumpang di SD 32 (di sekitar perumahan masyarakat) dengan jumlah santri kurang lebih 300 orang. Sistem pembelajaran di MADIN ini tidak mengenal kelas atau tingkatan, dan mata pelajaran yang disampaikan adalah al-Qur’an, Fiqih, Aqidah, Nah}wu, dan şaraf. Guru yang mengajar bersifat sukarela tanpa mengharap apapun. Waktu belajarnya dari jam 12.30 wib sampai jam 17.30 wib. Hari liburnya pada hari minggu. Anak-anak yang telah lulus dari madrasah tersebut tidak mempunyai ijazah (Surat Tanda Tamat Belajar). Pola ini berjalan cukup lama, yaitu sejak tahun empat puluhan sampai tahun 1976. Pada tahun 1976 tokoh masyarakat dan penduduk desa setempat sepakat untuk mendirikan pondok pesantren, pada tanggal 1 Februari 1977 pondok pesantren ini berdiri dengan nama Pondok Karya Nurul Ihsan, dengan menempatkan Ir. H. Ucu Suparta Wiriakusumah; Drs. H. Abu Bakar Harun, MM; H. Abdullah H. Seman (alm); dan H. Selamet Rahmat, SH sebagai dewan pendiri. Kemudian pada tahun 1985 nama pesantren dirubah menjadi Pondok Pesantren Nurul Ihsan. Santri pertama adalah murid-murid yang ada di Madrasah Diniyah dan anak-anak karyawan PT. Timah. Pada tahun 80-an pondok pesantren Nurul Ihsan pernah mengalami kemajuan dari segi kwantitas, siswa Madrasah Tsanawiyah mencapai 800, dan siswa Madrasah Aliyah sebanyak 700, jadi jumlah santri Pondok Pesantren Nurul Ihsan Pada saat itu mencapai 1.700 lebih bila di gabungkan dengan siswa Madrasah Ibtidaiyah. Pada tahun 1978 Madrasah Tsanawiyah didirikan dengan menginduk pada Madrasah Tsanawiyah Negeri Pangkalpinang, pada tahun itu juga berdiri Raudlotul Athfal dan Madrasah Ibtidaiyah, dan tiga tahun kemudian (1981) Madrasah Aliyah didirikan dengan satu jurusan IPS yang menginduk pada Madrasah Aliyah Negeri I Pakjo Palembang. Pada tahun 1986 berdirilah Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), kemudian menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) dan pada Oktober 2004 berubah status menjadi negeri hingga sekarang (2018) menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syaikh Abdurrahman Siddik yang bertempat di Petaling.